Welcome to my blog :)

rss

24 Apr 2011

PBNU Diminta Perhatikan Hadroh

Jombang, NU Online
Pengurus Organisasi Nahdlatul Ulama dari ranting sampai pusat (PBNU) diminta memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan seni hadroh dilingkungan warga nahdliyin. Meski sampai saat ini ikatan seni hadroh NU (ISHARI) tetap bertahan dan mandiri, namun perhatian lebih para pengurus NU kepada ISHARI berarti NU memberikan perhatian serius terhadap perkembangan kesenian yang bernuansa tradisional dan religius.

Hal itu disampaikan Rois ’Aam Majelis ISHARI KH. Abdul Hadi dan Rois Tsani H. Mahmud Tsani di sela-sela acara lailatul hadroh (malam hadroh ISHARI) dalam rangka memperingati Haul ke-34 Kiai Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, (10/12). Lailatul hadroh dihadiri sekitar 1.600 anggota Ishari dari Jawa Timur, antara lain Kediri, Pare, Mojokerto, Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, dan Jombang sendiri.

”Mereka datang sendiri, nyewa truk sendiri. Disini Cuma dikasih makan, itu pun harus rodat (manggung:red) dulu. Kami minta Pengurus NU terutama PBNU-nya untuk memperhatikan ISHARI, soalnya ISHARI adalah anak NU seperti IPNU atau Fatayat, Misalnya PBNU mendirikan kantor lah!. Soalnya, kegiatan ISHARI dilaksanakan hampir tiap hari, lebih sering dibanding kegiatan NU sendiri. Atau paling tidak membantu pembuatan seragam anggota ISHARI, karena rata-rata anggota ISHARI kalangan ekonomi menengah kebawah,” kata Rois Tsani ISHARI H. Mahmud Tsani.

Ikatan Seni Hadroh Indonesia (ISHARI) adalah salah satu badan otonom yang berada di bawah organisasi NU, disahkan pada 1959. pengorganisasian dan nama ISHARI diusulkan oleh salah seorang pendiri NU yakni Kiai Wahab Chasbullah. Sebelum ISHARI diresmikan, bahkan sebelum organisasi NU berdiri pada 1926, sebenarnya perkumpulan hadrah dilingkungan warga pesantren sudah ada, hanya saja belum terorganisir secara rapi.

”Mbah Wahab orangnya seneng hadroh, bahkan kalau sedang diam tangan beliau suka memukul-mukulkan tangan sebagai isyarat memukul terbang (hadroh: red) sambil melagukan bacaan sholawat. Lalu, karena beliau senang berorganisasi akhirnya kelompok hadroh diusulkan untuk membikin perkumpulan dibawah organisasi NU dan beliau sendiri yang memberi nama ISHARI atau Ikatan Seni Hadroh Republik Indonesia. Makanya, kalau anggota ISHARI ndak ingat Mbah Wahab ya kebangeten,”kata Gis Hasib, putra Kiai Wahab Chasbullah saat membuka acara lailatul hadroh.

ISHARI, kata Rois’Aam Majelis Hadinya KH. Abdul Hadi, bercita-cita menjalankan tradisi keagamaan warga pesantren yakni pembacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, sembari mengembangkan kesenian asli warga pesantren. ”ISHARI itu ya Ibadah yang punya seni,” katanya. (nam)

0 komentar:

Poskan Komentar