Welcome to my blog :)

rss

24 Apr 2011

Sex Education & Toilet Training

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK SEX EDUCATION
SEX EDUCATION BAGI ANAK

1. Pengertian
a. Menurut Islam
Menurut Dr. A. Nastih Ulwa dalam Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam pendiikan sex adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan pada anak sejak ia mengerti masalah yang berkenan dengan sex naluri dan perkawinan.
b. Menurut Sarlito
Dalam bukunya Psikologi Remaja (1994). Secara umum sex educatin adalah suatu informasi mengenai personal seksualitas manusia yang jelas dan benar. Yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran tingkah laku seksual, hubungan seksual dan aspek-aspek kejiwaan dan kemasyarakatan.
c. Menurut Nikmatul Faiqoh
Sex Education/pendidikan sex berarti pendidikan seksualitas yaitu suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks yaitu aspek biologis, orientasi, nilai sosiokultural dan moral.serta perilaku.
2. Pokok-Pokok Pendidikan Seksual
Secara praktis yang perlu diterapkan dan diajarkan pada anak
1. Menanamkan Rasa Malu Pada Anak
Rasa malu harus ditanamkan sedari dini, walau masih kcil jangan biasakan bertelanjang di depan orang lain.
Misalnya: saat keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
2. Memperjelas Identitasnya.
Secara fisik dan psikis ada beda antara laki-laki dan wanita. Perbedaan ini diciptakan oleh Allah bukan untuk saling merendahkan. Namun semata-mata karena berbedanya fungsi yang kelak akan diperankan. Agar masing-masing fitrah terjaga. Islam memberikan tuntunan agar laki-laki tidak menyerupai wanita atau sebaliknya. Oleh karena itu harus dibiasakan sejak kecil. Anak-anak berpakaian sesuai jenis kelamin.
3. Memisahkan Tempat Tidurnya
Abu Dawud meriwayatkan dengan Sanad Hasan bahwa Rasullullah SAW. Bersabda: ”Suruhlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun dan pukulah mereka jika enggan melakukannya ketika sudah berumur 10 tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.
4. Mengajarkan Adab Masuk Rumah.
Dengan membiasakan mengucap salam saat akan masuk rumah, meminta ijin ketika akan masuk rumah orang lain, tidak mengintip rumah orang lain.
5. Mendidik Menjaga Kebersihan Alat Kelamin.
Selain agar bersih dan sehat, sekaligus juga mengajari anak perihal najis, anak harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet traning) ini akan membentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri. Mampu menguasai diri dan santun dalam memenuhi hajatnya.



6. Mengenal Mahramnya.
Mahram adalah orang yang haram dinikahi. Dengan memahami kedudukan mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulannya sehari-hari dengan selain mahramnya. Sekaligus paham akan haramnnya incest (perkawinan se-mahram).
7. Mendidik Anak Agar Selalu Menjaga Pandangan Mata
Jika anak dibiasakan mendudukan pandangan dari aurat, gambar, dan film porno disertai dengan adanya rasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Maka hal itu akan melahirkan kemanisan iman yang bisa dirasakan oleh anak.
8. Mendidik Anak Agar Tidak Ikhtilat Dan Khalwat
Ikhtilat adalah bercampur bawurnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diperbolehkan oleh syarat islam. Sedang berkhalwat adalah seorang laki-laki yang berduaan dengan wanita yang bukan mahram. Keduanya adalah aktivitas yang mengantarkan pada perbuatan zina.
9. Mendidik Etika Berhias.
Tujuan pendidikan sex terkait dengan etika berhias adalah agar berhias yang dilakukan tidak untuk maksiat.
10. Mempersiapkan Anak Hadapi Ihklam (Mimpi Pada Anak Laki-Laki) dan Haid.
Mengenal ihklam dan haid tidak hanya sekedar untuk bisa memahami fisiologi dan psikologinya. Namun juga harus dipahamkan ketentuan islam terkait dengan masalah tersebut seperti kewajiban mandi. Dan yang terpenting harus ditekankan bahwa mereka telah menjadi muslim dan muslimin dewasa yang wajib terkait dengan hukum syara’ (mukallaf).
3. Pendidikan Sex Bagi Anak Berdasarkan Usia
1) Pada usia 1 sampai 4 tahun
Paparnya, orang tua disarankan mulai memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk alat genital. Perlu juga ditekankan pada anak bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik. Dan berbeda satu sama lain. Kenalkan, ini mata, ini kaki, ini vagina. Itu tidak apa-apa, terangkan bahwa anak laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda. Masing-masing dengan keunikan sendiri ujarnya.
2) Pada usia 5-7 tahun
Rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual biasanya meningkat. Maka aku menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang wajar karena itu orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif. Menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. Kalau anak laki-laki mengintip temanya perempuan yang sedang buang air. Itu mungkin karena ia ingin tahu, jangan hanya ditegur lalu ditinggalkan tanpa dijelaskan terangkan bedanya banya anak laki-laki dan perempuan.
3) Pada usia 8-10 tahun
Anak sudah mampu mmbedakan dan mengenali hubungan sebab akibat pada fase ini. Orang tua sudah bisa menerangkan secara sederhana proses reproduksi. Misalnya tentang sel telur dan sperma bila bertemu akan membentuk bayi.
4) Pada usia 11-13 tahun
Sudah memasuki pubertas, ini mulai mengalami perubahan fisik dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ia juga sedang giat mengekplorasi diri. Misal: anak perempuan akan mencoba alat make up ibunya. Anak perempuan memiliki hubungan lebih dekat dengan ibu dan sebaliknya. Hal itu mempermudah anak membentuk identitas dirinya sendiri sebagai individu dewasa. Kalau anak perempuan kurang akrab dengan ibunya, ia bisa saja mencari sosok ayah jika ia mencari pasangan hidup kelak.
4. Pendidikan Seksual
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan, sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan, dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak. (dalam Psikologi Praktis, Anak, Remaja dan Keluarga.1991). dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orang tua di rumah, mengingat orang tua yang paling tahu keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orang tua tidak mau terbuka terhadap anak didalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupn tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.
5. Tujuan Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psiskologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus dimasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nila-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.
Menurut Kartono Mohammad pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab (dalam diskusi panel islam dan pendidikan seks bagi remaja, 1991). Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusialaan (Tirto Husodo, Seksulitet Dalam Mengenal Dunia Remaja, 1987).


Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :
 Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual remaja.
 Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab).
 Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi.
 Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
 Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
 Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.
Sex education/pendidikan seksual sebenarnya berarti pendidikan seksualitas yaitu suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologi, orientasi, nilai sosiokultur dan moral, serta perilaku.
Masa Remaja Merupakan Masa Peralihan Dari Masa Anak-Anak Ke Masa Remaja.
Bagaimana bentuk sex education yang seharusnya diinformasikan kepada remaja? Remaja harus mempelajari pola-pola perilaku seksual yang diakui oleh lingkungan serta nilai-nilai sosial sebagai pegangan dalam memilih teman hidup. Remaja juga harus belajar mengekspresikan cinta pada lawan jenisnya, dan belajar memainkan peran sesuai jenis kelamin, sebagaimana yang diakui oleh lingkungan. Di bawah ini diterangkan satu persatu tugas-tugas tersebut :
1. Memperoleh pengetahuan mengenai seks dan juga peran sebagai pria atau wanita dewasa yang diakui oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Pengetahuan ini penting sekali artinya, sebelum remaja mampu menyesuaiakan diri sebaik mungkin dalam berinteraksi secara dewasa dengan lawan jenisnya. Dengan pengetahuan ini, ia akan mampu memahami kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya sama baiknya dengan kesenangan dan kepuasan yang ia dapatkan. Dengan pengetahuan itu pula, ia akan lebih mampu memainkan peran sesuai jenis kelamin yang diakui oleh lingkungan masyarakat.
2. Mengembangkan sikap terhadap sex. Tugas perkembangan yang kedua dalam masa transisi seksual ini adalah mengembangkan sikap yang positif terhadap seksualitas.
3. Sikap-sikap yang positif terhadap masalah seksualitas ini menyangkut perasan remaja terhadap anggota kelompok lawan jenis, perasaan remaja terhadap peran perempuan atau laki-laki sesuai jenis kelamin dan perasaan terhadp masalah-masalah seks itu sendiri. Semua perasaan ini menyangkut norma-norma yang diakui oleh lingkungan sosial dimana remaja itu menetap. Sikap positif terhadap masalah seksual akan mengarahkan remaja pada penyesuaian dalam heteroseksual yang lebih mudah dan lebih baik. Sekali lagi suatu sikap terbentuk, sikap positif atau negatif maka sikap itu cenderung menetap seumur hidupnya.
4. Belajar bertingkah laku dalam hubungan heteroseksual menurut cara yang diakui oleh lingkungan masyarakat.
5. Belajar bertingkah laku sesuai apa yang diakui oleh lingkungan sosial dalam hal relasi heteroseksual merupakan tugas perkembangan ketiga dalam masa transisi menuju seksualitas dewasa. Pengalaman bergaul dengan lawan jenis akan banyak membantu remaja dalam usahanya menguasai tugas perkembangan ini.
6. Menetapkan nilai-nilai dalam memilih pasangan hidup
7. Tugas keempat yang harus dikuasai remaja dalam menjalani masa transisi menuju kehidupan seksualitas dewasa adalah menetapkan nilai-nilai yang akan menjamin suatu pengambilan keputusan yang bijaksana dalam memilih pasangan hidupnya.
8. Belajar untuk mengekspresikan cinta penting kelima adalah belajar menyatakan perasaan dan emosi yang terbangkit oleh orang yang dicintainya, sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
9. Pada masa transisi menuju kedewasaan, pada umumnya remaja harus belajar untuk menjadi lebih outer bound sebagai ganti dari sifat self bond yang merupakan ciri kekanak-kanakan. Remaja harus belajar menunjukkan afeksinya dan memperlihatkan rasa sayangnya serta menerima hal itu dari orang lain. Khususunya lawan jenisnya. Dengan dimilikinya dorongan-dorongan seksual pada remaja, membuat remaja tertarik pada lawan jenis, kelamin dan mulai mencoba mengekspresikan dorongan-dorongan tersebut. Di sini remaja mulai mengenal arti cinta dan berusaha untuk mengekspresikan cinta tersebut. Dalam mengekspresikan cinta ini terdapat berbagai macam cara yang dilakukan remaja, baik yang bersifat nonfisikal maupun fisikal.
10. Belajar untuk memainkan peran sesuai dengan jenis kelamin merupakan tugas keenam dalam mencapai heteroseksual yang matang.
Tugas ini merupakan tugas yang paling sulit dan penuh tantangan, terutama bagi remaja putri.
Seks edukasi yang komprehensive dapat mengurangi kehamilan pada remaja tanpa meningkatkan jumlah hubungan seksual ataupun penyakit menular seksual.
Bagaimana orang tua tetap berbicara tentang seks sampai anak dewasa? Orang tua pada tahap ini harus ingat bahwa anak-anak benar-benar membutuhkan dan menginginkan anda.” Remaja bukan anak dewasa yang berbadan kecil. Mereka masih butuh orang dewasa sebagai sumber dan pembimbing.”
Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lengkap sebagai berikut:
 Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
 Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan, dan tanggung jawab)
 Membentuk sikap dan memberikan terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi.
 Memberikan pengertian hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
 Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
 Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat menganggu kesehatan fisik dan mentalnya.
 Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks ynag berlebihan.
 Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat. Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak.

0 komentar:

Poskan Komentar